Reza's Public Diary
hihihi *girang*
apa sih yang elo-elo bayangkan ketika elo baca judul ini?
well, kalo elo udah pernah nonton sinetron Indonesia (baik itu accidentally atau on purpose), elo pasti akan paling sering (BANGET) nemuin adegan rumah sakit kan? di mana peran utamanya kecelakaan karena ketika mau ditabrak mobil, dia lebih milih “berpose” daripada menghindar. kalo lo perhatiin, peran utama itu pasti akan selalu mainstream kalo mau ditabrak dengan ciri-ciri sebagai berikut:
- peran utama biasanya akan berteriak dengan mulut yang menganga (yangs ebenernya bermaksud untuk dramatis, tapi keliatan katak orang idiot belum poop selama 2 hari)
- tangannya selalu diangkat ke atas. entah apa maksudnya. mungkin didetik-detik kematian dia bertjuan untuk bilang “put your hands up, put your hands up!”
- endingnya dia pasti teriak “aaaaa” atau “tidaaaaaak”
anehnya, peran utama itu selalu punya waktu untuk bikin 3 pose yang nggak gampang itu. one question: kenapa dia nggak lari aja sih daripada berpose gitu? emangnya kalau dia mati dengan pose gitu bakal ada headline “mati ditabrak, seorang korban tetap nerpose dengan anggun”. enggak kan?
anyway, kesalahan akan dimulai ketika pemain sinetron jadi pasien di RS. yah, sebutlah ada keluarga yang nanya sama PERAWAT SINETRON dengan “Suster, anak saya bagaiamana suster?”. si PERAWAT SINETRON itu tiba-tiba “Maaf, Bu. KATA DOKTER anak Ibu…”
oke, perawat itu LITERALLY bilang “kata dokter”.
tadinya gue pikir “ah, mungkin itu karena abis operasi… tugas perawat di ruang operasi kan emang nggak kontrol langsung organ pasien”
tapi ternyata gue terlalu optimis. kalau ada orang lain tanya “Suster, anak saya bisa pulang kapan?” PERAWAT SINETRON pasti bakalan bilang “KATA DOKTER, anak ibu belom bisa pulang.”.
jangan bilang kalau nanti ada pasien tanya “Suster saya kapan dapet jodoh ya?” terus perawat sinetron itu bakalan bales “KATA DOKTER…”
gimana orang-orang nggak bakal mikir kalau “PERAWAT SINETRON” itu nggak bisa mikir coba? emangnya perawat cuma dibisikin dokter sampe ciuma bisa ngomong “kata dokter”? kasian ya penikmat sinetron Indonesia dibegoin. perawat Indonesia juga kasian citra nya jadi jelek. gue bakal cerita elbih dalam deh tentang anehnya scene-sceme sinteron sama realita perawat aslinya Indonesia gimana (based on my praktikum lab, sih :p)
tapi lain kali aja, ya.
hari ini gue mau bandingin kalau di LUAR NEGERI, citra PERAWAT tuh nggak bego kayak gitu. mau bukti? *nulis kwitansi* *eh* *salah fokus*
yup, gambar itu adalah gambar Halle Berry yang berperan sebagai Nurse Aimee di dalam film “New Year’s Eve”. seorang perawat yang kritis, empati, dan gaul (seriously). di film ini, NGGAK ada satu kata pun dia bilang “Maaf pak, kata dokter” dan kasih jawaban yang nggak memuaskan. instead, dia malah nemenin pasien yang udah mau meninggal dengan se-empati mungkin. dia bahkan membiarkan pasien untuk ke membelot peraturan RS supaya pasien bisa meninggal dengan tenang. coba kalo perawat sinetron “aduh bapak mau metong ya? tapi kata dokter…”. please dech.
2. 
Gambar ini adalah gambar “Edie Falco” (blue one) yang berperan sebagai “Nurse Jackie” yang adalah film series yang cukup populer. Nurse Jackie digambarkan sebagai karakter yang kritis, bitch, disiplin, dan tulus di saat bersamaan. dia sering berdebat dengan dokter, dia sering pula membelot peraturan RS supaya bisa bantu pasien, dan bahkan ada satu dokter yang sangat percaya sama dia dan nggak akan ke ruang operasi tampa dia. di saat bersamaan, dia juga ketagihan sama painkiller karena dia emang punya masalah sakit punggung.
anyway, coba deh elo nonton film “The Vow” atau “Letters to God”. perawatnya selalu punya karakter yang signifikan. uh, well.
Achmad Reza Mardian, April 27th 2012
it all started when i watched dvd “Friends With The Benefit” nya punya kakak gue. well… di awal cerita diceritain kalau si Justin Timberlake ceritanya baru dateng ke New York dan well… as many of us have known it is a WOW.
film ini sebenernya nyindir gue banget. sebenernya, akhir-akhir ini gue sempet ikutin seleksi delegasi UI untuk National Model United Nations of New York. MUN (bagi lo yang gak tau, MUN itu semacam simulasi konferensi PBB gitu) yang paling gue incer semenjak taun lalu gue liat banner delegeasi UI yang terpampang di stasiun UI.
“I WANT IT SO BAD!” itu yang selalu gue utarakan dalam benak atau sekadar ngomong sama panitianya ketika sms-an nanya-nanya dan bahkan pas interview.
however, gue ternyata nggak terpilih menjadi 7 delegasi UI ke NY (sebelumnya sih lolos ke 15 besar, but yeah im not going). dan respons gue apa? cuma “oh, okay…” sambil pura-pura tegar dan ngomong “yaudah lah yahh belom jodoh, masih ada MUN yang lain.” it’s basically normal and a good coping indeed.
tapinya lagi… untuk seorang yang ngomong “i want it so bad”, kayaknya itu bukan respons yang tepat, deh. i was thinking more like asking the committe “kenapa gue nggak dipilih?” atau “qualifiikasi apa sih yang kalian cari?” atau lalala/ yah pokoknya respons seperti itulah yang seharusnya gue keluarin ketika gue berkomitmen “I WANT IT SO BAD.”
kejadian ini juga bukan satu-satunya gamparan bagi gue. sebelum ini, gue juga sempet berkomitmen “I WANT IT SO BAD” ketika tau bahwa UIfest (ajang lomba seni di UI) bikin lomba nyanyi solo. and you know what? bahkan sampai pas hari audisi…. gue nggak latihan karena alasan hectic kepanitiaan. alhasil? gue nggak lolos seleksi fakultas.
this got me thinking…. HOW BAD IS YOUR EFFORT IN WILLING EVERYTHING TO GET WHAT YOU WANT?
itu yang seharusnya gue tekankan di benak gue. biarlah NMUN NY dan UIfest yang jadi saksi biksu ke nggakjelasan kehendak gue. nect up… ada BIPOP UI. let’s see… HOW BAD AM I WILLING EVERYTHING TO GET WHAT I WANT.
Kak Putra Aditya
I miss Ohio :’)
(Source: egalitarian)
Have you ever had an awkward moment when you wanna say “sorry” and “Thank you” for the same time?
so here’s the thing. felt like only it was yesetrday (off course, because it WAS).
i walked conffidently in the hall of a mall in depok. i’m on my way home and this mall is kinda the shortcut hahaha
anyway, i walked conffidently until a girl camm me “mas, itu tasnya kebuka.”
i was so shock—because that would ruin mu confident walk i made earlier haha—so i just zip my bag and i turn around my body and accidentally hit a child. a cute lill girl. it was pure accident and i didn’t even have a chance to say “Thank You, mbak” to the woman who told me that my bag’s opened. and before i know it, the child that i hit accidentally just apologized to me first because she didn’t see me coming. i was like “hey, ain’t the one who should apologize?”
and that was the most awkward minutes in my life. off course, after that i keep walking confidently but that event seriously got me thinking. there are moments when you have to choose even if both options have the same importance you have to decide which one you should choose. for instance, me. what would u do if you were me? would you aplogize first or thank first? thoughts?
Jam 4
“Bangun sahuuurrrrrr!!!”
Abis sahur…
kenyaaaannggg….
Jam 12
“Bangun zuhuran dulu”
Jam setengah 4
“Ashar duluuu”
“Udah adzan magrib…! ayo buka”
dari iambutterfly
Weekend:
Begadang on line fesbukan, twitteran, ym-an, fym-an…
Weekdays:
Begadang ngerjain tugas (masih nyerempet fesbukan, twitteran, dan sejawatnya…)
dari philomimi
liburan udah mau habis , galau akademik dimulai lagi saudara-saudara…
bakal ketemu sama tugas
belum lagi ketemu sama yang namanya rapat pat pat pat
tapi.. kalau inget bakal ketemu sama temen-temen lagi mah..
dari ghanjaro












